Minggu, 20 Mei 2012

Bukan ingin dan bukan salah mereka!!


Sebentar lagi pagi kan datang walau sang bulan malas untuk pulang, daibangku terminal benak mu tertanda gelisah seorang merasa terbuang, sedetik ingatnya seribu angannya dambakan malam terus berbintang, di bawah sadarnya nasib bercerita hangatnya surya para neraka.
Sampai kapan kau akan bertahan dicaci langit tak sanggup menjerit, hitam awan pasrah kau jilati, kusam kau dekap dengan muak kau lelap, pagi yang hingar dengan sadar engkau gentar,,,
Dari bebrapa baris syair ini bisa di gambarkan masi banyak orang yang merasa terbuang. Kita ambil contoh di Jakarta, di Jakarta masi sangat banyak orang yang berjuang untuk dapat merubah nasib walau itu hanya ada dalam angan-angan saja.
Masi sangat banyak anak-anak jalanan yang mengadu nasib di kota yang terkenal kota yang paling kejam di Indonesia ini, banyak dari mereka datang dari berbagai desa yang ada di Indonesia untuk mengubah nasib atau mencoba peruntungan di kota besar ini, walaupun mereka masi terlalu kecil untuk merasakan kerasnya kehidupan untuk mencari nafkahnya sendiri, tapi mereka tetap bertahan walau mereka di caci langit, merasa terbuang dan mendambakan sebuah kebahagian di masa-masa indah dunia anak-anak. tapi mereka tetap sabar dan tak gentar untuk meraih bahagia yang ada di angannya,,,
Di Indonesia hal seperi ini mungkin sudah bisa dianggap seperti kebudayaan, karena banyak sekali anak-anak yang masi di bawah umur terlihat di pinggiran ibu kota untuk mencari uang, seperti mengamen, mengemis, bahkan sudah ada yang berani utuk menjadi pencopet. Dan jumlah mereka semakin bertambah setiap tahunnya.
Jelas ini bukan mau mereka, jelas ini bukan impian mereka, dan jelas ini bukan salah mereka!
Kita sadar kita adalah Negara yang sangat amat kaya, yang semuanya serba ada di sini, tapi kekayaan ini di kuasai oleh Negara lain dan hasilnya di nikmati Negara-negara lain. Dan anak bangsa hanya bias melihat dengan tatapan tolol.
Sekarang kita pikir, ini salah siapa?!

DESA HARUS JADI KEKUATAAN EKONOMI

Dari tahun ke tahun banyak sekali warga desa yang hijrah ke kota untuk mencari peruntungan yang lebih layak, bukan Cuma orang dewasa yang mencoba peruntungan ini, tapi juga anak di bawah umur ikut-ikutan mengadu nasib di kota kota besar. Sungguh sangat memprihatinkan melihat ini semua, karena desa yang dulunya sebagai bagian sentral dalam perekonomian Negara sudah mulai banyak di tinggalkan dan mulai mencariperuntungan baru.

Desa harus jadi kekuatan ekonomi ,agar warganya tak hijrah ke kota, sepinya desa adalah modal utama untuk bekerja dan mengembangkan diri. Walau lahan sudahmenjadi milik kota, bukan berarti desa lemah tak berdaya . desa adalah kekuatan sejati, Negara harus berpihak pada para petani.

Entah bagaimana caranya desa adalah masa depan kita,keyakinan ini datang begitu saja, karena aku tak mau celaka,desa adalah kenyataan, kota adalah pertumbuhan,desa dan kota tidak terpisahkan,tapi desa harus di utamakan.

Di lumbung kita menabung, datang paceklik kita tak bingung, masa panen masa berpesta . itulah harapan kita semua.Tapi tengkulak-tengkulak bergentayangan , tapi lintah daratpun bergentayangan, untuk apa punya pemerintah,kalau hiddup terus-terusan susah.